INSPIRASI PAGI: Diskusi itu Elaborasi

BERDISKUSI itu tak gampang, apalagi jika yang terlibat kurang memahami etika, wawasan, serta basis logika atau nalar yang baik sehingga tak memiliki pola pikir yang terstruktur dan tertib.

Namun, bukan berarti tak mungkin dilakukan. Asal, kuncinya, mampu melakukan elaborasi atas pertemuan pemikiran kita dengan pemikiran orang lain sebagai partner diskusi kita.

Bentuk elaborasi sederhananya adalah, kita berbicara lalu giliran mendengarkan orang lain bicara. Kemudian ide-ide dari pembicaraan ini disinkronkan, strukturkan, rumuskan, sehingga dapat dikontekstualisasi untuk menjawab tema persoalan tertentu. Begitu seterusnya.

Sehingga proses diskusi bukan sekadar adu referensi dan adu teori, tetapi memang diarahkan untuk menjawab persoalan tertentu setepat mungkin.

Sayangnya, tradisi elaborasi tidak dijumpai di kebanyakan forum di luar sana. Sebab, tidak setiap orang yang pandai berbicara itu pandai berdiskusi. Yang lazim digelar, komunikasi hanya berlangsung satu arah secara monolog. Moderator pun gagal menjadikan diskusi lebih hidup.

Kadang ada pancingan interaksi dari pembicara, tapi itupun bentuknya pertanyaan tertutup: “Betul apa betul?” Lalu dijawab serentak, “betuuul..” 

Akibat minimnya interaksi pemahaman, akhirnya muncul ketidakpuasan. Ada yang mampu memendam ada juga yang tidak, sehingga muncul keributan.

Ingat, tujuan diskusi itu untuk membuka banyak mulut (pikiran), bukan membuat orang lain tutup mulut. Meminjam kata Rocky Gerung, “Pikiran hanya disebut pikiran kalau dipertengkarkan. Kalau Anda punya pikiran dan tidak ada yang membantah, itu artinya Anda sedang berdoa.”

Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
Disumbang pemikiran Rizky D. Rahmawan, Caknun .com

BACA JUGA:  Doa Iringi Pelepasan 446 JCH Kloter 28 ke Tanah Suci

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *