SETIAP insan pasti ingin merasakan ketenangan dalam hidupnya. Namun selama hidup masih punya deadline dan target, selama itu juga kegelisahan akan mampir.
Ibarat mahasiswa yang gelisah saat memasuki minggu tenang jelang ujian akhir semester. Hal serupa juga dirasa para calon atau tim jelang final di ajang kompetisi tertentu.
Bisa saja persiapan sudah matang, tapi masalahnya hasil tak bisa ditebak. Anomali bisa saja muncul. Meski bisa diprediksi pun, jika belum ada pernyataan “hitam di atas putih”, maka kegelisahan tetap akan mendera.
Zenon, filsuf Yunani kuno aliran stoicism atau stoa -mazhab dalam Filsafat Helen-Romana (Hellenistik)- pernah memberi solusi yang dikenal dengan istilah “dikotomi kendali”, bahwa kita harus bisa membedakan hal apa saja yang bisa dikendalikan dan hal apa saja yang tidak bisa dikendalikan.
Dalam konteks menghadapi ketidakpastian ini, kita diajak untuk fokus kepada apa yang bisa kita kendalikan. Sebab, rasa tenang berasal dari diri sendiri, bukan berasal dari keluarga atau orang lain.
Dalam Islam diajarkan, Mukmin sejati akan menghadapi segala macam situasi dan kondisi dengan tenang. Sebab, hatinya selalu terpaut kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d: 28).
Bagaimana menurut Anda? (ski)






