INSPIRASI PAGI: Laki-laki (Tak) Bercerita

SEORANG motivator perempuan menyebut, bahwa laki-laki bicara 7.000 kata, sedangkan perempuan 20.000 kata dalam sehari”. Inilah alasan kenapa perempuan lebih doyan ngobrol, dan cerewet. Apa iya?

Sebenarnya ini bukan fakta ilmiah. Klaim ini muncul dari Louann Brizendine, penulis dan seorang neuropsikiatri di University of California San Francisco pada tahun 2006. Namun, gagasan ini dipertanyakan Mark Liebermann, profesor linguistik di Universitas Pennsylvania.

Anggapan bahwa perempuan lebih banyak bicara ketimbang laki-laki adalah stereotype yang muncul dari generalisasi yang sudah ketinggalan zaman tentang perbedaan gender.

Ditambah lagi bumbu konstruksi sosial dari budaya patriarki yang selalu menggambarkan laki-laki kuat, tangguh, dan tidak menunjukkan kelemahan emosional. Sehingga muncul kredo “laki-laki tak bercerita”.

Padahal, banyak atau tidaknya seseorang bicara tak terkait gender: Perempuan juga ada yang pendiam, pun laki-laki tak sedikit yang banyak mulut. Apalagi umumnya didorong untuk meraih validasi, sehingga bisa menjadi “Jack of all trades” dengan efek Dunning-Kruger nan mumpuni.

Yang lebih menakjubkan, “skill komunikasi” laki-laki lebih advance dari perempuan, daya rusaknya pun luas dan dahsyat. Jika perempuan hanya menceritakan orang lain, laki-laki sanggup mengumbar aib diri sendiri di depan orang lain.

Jika efek gosip perempuan hanya sebatas menghancurkan rumah tangga, bisik-bisik (baca: konspirasi) laki-laki bisa menggulingkan pemerintahan.

Jika perempuan hanya sebatas bergosip di teras rumah atau in door, laki-laki bisa di mana saja: Bahkan sambil naik sepeda motor berdampingan di sepanjang jalan raya yang padat! Sungguh multi tasking yang bikin emak-emak sain kanan belok kiri minder.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Kak Jefridin Ingin Pembina Pramuka Menjadi Tonggak Kemajuan Pendidikan di Gugus Depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *