DALAM buku Indeks Kota Cerdas Indonesia (2019), disebut bahwa pakar urban Boyd Cohen mendefinisikan kota yang cerdas sebagai kota yang lebih efisien melalui penerapan teknologi, sebagai jembatan pengembangan pengetahuan mengatasi kebutuhan manusia.
Kota cerdas dibangun dari banyak aspek yang dikelompokkan menjadi enam dimensi, yaitu lingkungan, mobilitas, pemerintahan, ekonomi, masyarakat, dan kualitas hidup.
Beginilah kota-kota dunia dibangun. Tentu
sebagai kota terbesar di Kepulauan Riau, Batam dibangun dengan menggunakan kriteria kota cerdas dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebagai tolok ukurnya.
Dari sini disusun beragam program dan telah menghasilkan perbaikan-perbaikan yang nyata.
Misal kinerja pemerintahan jauh lebih efisien dan transparan. Layanan publik semakin baik dengan beragam fasilitas daring untuk masalah perizinan usaha, hingga kependudukan.
Penguatan dan pemerataan ekonomi ditempuh yang membuat UKM lebih berdaya, hingga pembangunan fasilitas-fasilitas pusat industri digital seperti di Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa Digital Park (NDP).
Perbaikan ekonomi ini tampak dari pertumbuhan ekonomi Batam tahun 2022 hingga 6,84 persen melampaui Pemerintah Provinsi Kepri, bahkan Nasional.
Dari sisi mobilitas, Kota Batam banyak membangun infrastruktur dan selanjutnya menyusun rencana pengembangan jaringan jalan raya hingga angkutan massal, kereta LRT.
“Siapkan diri menjadi yang terbaik, ambil manfaat dari pembangunan Kota Batam sebagai bandar dunia madani, modern dan sejahtera menuju Batam Kota Baru,” ujar Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR).
Bagaimana menurut Anda?(ski)






