LEADER: Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR). Banyak yang terobsesi untuk meniru jalan suksesnya.
DALAM dunia seni, sastra, dan pemikiran intelektual, dikenal ungkapan “epigon”, untuk menggambarkan seseorang yang mengikuti atau meniru gaya, karya, atau ide-ide dari tokoh ternama, dengan harapan mendapatkan keberhasilan serupa. Setingkat lebih baik dari penjiplak.
Ketika Ebiet G Ade tenar lewat lagu “Camellia I”, gaya bernyanyinya yang khas memunculkan epigon juniornya, di antaranya Jamal Mirdad hingga Muchlas Adi Putra. Hal yang sama juga dialami Rhoma Irama.
Kita juga masih ingat bagaimana “dai sejuta umat” KH Zainuddin MZ, memunculkan epigon para dai-dai muda kala itu, dengan cara dan intonasi dalam berdakwah.
Dalam ide kepemimpinan, Alexander Agung dari Macedonia, juga banyak memunculkan epigon, seperti Julius Caesar, hingga Napoleon Bonaparte. Meski sebenarnya, Alexander juga menjadi epigon dari Achilles, prajurit perkasa dalam perang Troya.
Bahkan di dunia sastra, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Abdul Hadi, dituding “jaksa” Slamet Kirnanto, hanyalah epigon-epigon yang saling terhubung. Vonis itu ia lontarkan di acara “Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir”, di Aula Universitas Parahyangan, Bandung, 8 September 1974.
Tak ada yang baru di bawah matahari. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi. Karena pencarian, sasaran, dan keinginan umat manusia tetap sama.
Namun tidak berarti bahwa tidak ada penemuan baru. Untuk itu, kreatif dan inovatif benar-benar diperlukan untuk melahirkan karya yang benar-benar berkarakter. Ide itu mahal, boy. Follower tak akan pernah menjadi leader!
Bagaimana menurut Anda? (ski)






