INSPIRASI PAGI: Pencitraan, Baper…

PERASAN TIDAK? Sejak kata “pencitraan” dan  “baper” kian populer di dunia maya, banyak yang menjadikannya senjata untuk melanggengkan kemalasan dan penghinaan, bahkan penindasan.

Contoh: ketika lihat orang bekerja dengan baik –bahkan turun ke lapangan kotor– bukannya diapresiasi atau berterima kasih, malah dituduh pencitraan. Padahal, apa yang dilakukannya terbukti bermanfaat bagi sesama.

Kalau yang rajin dan ikhlas dihujat, lama-lama orang akan enggan bahkan takut berbuat baik. Sebaliknya, stok orang malas makin banyak. Karena merasa lebih terlindung dari nyinyiran.

Demikian juga ketika ada orang tersinggung, bukannya minta maaf malah dibilang “baper”. Padahal barangkali memang ada masalah pelecehan, penghinaan, bahkan bullying di sana. Zalim!

Ingat, bisa saja hal yang biasa bagi kita, tapi sangat sensitif bagi orang lain. Sebab, kita tidak tahu apa yang sudah, sedang, dan dia alami dan lewati. Nilai setiap orang tak sama, bro! Maka, belajarlah memahami dan menghargai.

Kalau sedikit-sedikit disebut “pencitraan” dan “baper”, maka semua orang jahat akan bebas melakukan apa saja tanpa memedulikan orang lain. Isu besar bisa hilang eksistensinya karena dianggap sudah sewajarnya.

Mari junjung adab agar tetap beradab. Tentunya kita tidak buta warna, agar bisa melihat keindahan pelangi. Juga bukan lalat yang merasa sampah lebih lezat dibanding madu.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  𝗔𝗺𝘀𝗮𝗸𝗮𝗿 Cek Lapangan, Pastikan Setiap Keluarga Dapat 15 Kg Beras per Bulan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *