SELAMAT Hari Kebangkitan Nasional! Kata orang bijak, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Namun, sejarah seperti apa yang harus kita kenang? Apakah yang benar-benar objektif, atau sesuai dengan kepentingan rezim?
Bukan rahasia jika masalah utama dalam sebuah karya tulis, termasuk sejarah, selalu ada subjektivitas, di mana opini dan kepentingan si penulis, tercampur dengan fakta dan sederet logical fallacy lainnya. Sehingga tidak bisa netral terhadap penggunaan kebenaran itu ketika ditemukan.
Bukan rahasia juga, jika penguasa bisa mengubah sejarah bahkan memutar balikkan fakta. Rezim berganti, sejarah pun direvisi. Contoh, sejarah tentang Ferdinand Marcos, diktator Filipina di era 1970an dan 80an.
Ia sempat digulingkan dan diusir. Namun kini, Marcos disemayamkan di makam pahlawan. Bahkan setelah anaknya, Bongbong Marcos, menjabat sebagai presiden, sejarah Filipina pun ditulis ulang untuk membersihkan nama Marcos.
Ariel Haryanto menulis di Kompas, bahwa di negara modern yang demokratis, penulisan sejarah merupakan ranah kerja akademikus. Bukan politikus dan pejabat negara.
Beda di negara otoriter. Pejabatnya menyensor dan membajak bahan-bahan bersejarah untuk kepentingan mereka. Pelajaran sejarah diganti dengan indoktrinasi tentang masa lalu. Berlangsung secara monolog top-down.
Isinya propaganda, yakni narasi monokrom (hitam-putih), penuh glorifikasi nasionalisme sempit yang berpuncak pada glorifikasi elitenya. Kadang-kadang ditambah stigmatisasi atau kampanye hitam terhadap lawan politik para penguasa.
“Sejarah bukan propaganda. Semestinya ditulis secara independen oleh para akademisi, bukan digunakan sebagai alat propaganda politik oleh pemerintah,” jelasnya.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Sejarah & Propaganda






