SUATU SIANG, tanpa sengaja Nasruddin menyaksikan seorang narapidana yang tengah dibawa oleh beberapa petugas.
Narapidana itu nampak begitu bersedih. Ia berjalan dengan kedua tangan yang dibelenggu sebuah rantai besar yang juga panjang.
Nasruddin mendekati narapidana itu dan kemudian ber bisik, “Mengapa kau nampak sedih, Sobat? Kau tahu, kalau rantai itu lepas dari kedua tanganmu, kau bisa menjualnya de ngan harga mahal. Jadi dengan memakainya, kau termasuk beruntung.”
Mendengar ucapan itu, si narapidana tersenyum.
Kisah ini sepintas jenaka, namun sebenarnya sarat makna filosofis. Di sini, Nasruddin, tokoh sufi ternama itu memberi nasihat bahwa kita berjalan, menjalani hidup dengan belenggu masing-masing.
Ada belenggu yang bernama kegagalan, kesalahan, kekecewaan, dan rasa sakit dari masa lalu.
Maka untuk hidup sepenuhnya di masa kini dan merencanakan masa depan secara memadai, kita perlu mengambil pelajaran dari semua kenangan menyakitkan di masa lalu itu, dan kemudian melepaskannya. Inilah yang disebut mengubah tragedi menjadi motivasi.
“Ketika satu pintu menutup, pintu lain terbuka; tapi kita begitu sering melihat begitu lama dan sangat menyesal pada pintu yang tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka untuk kita,” kata Alexander Graham Bell. ***
Video ilustrasi






