IN2PIRASI PAGI: Politikus & Ganti Popok

JIKA dulu Anda pernah membaca komik atau buku “Tom Sawyer Keliling Dunia”, berarti masa kecil Anda sangat menyenangkan.

Namun tulisan ini tak akan menceritakan soal petualangan anak bandel dari Mississippi, Amerika Serikat, yang sangat suka kue tarcis itu, tetapi pandangan penulisnya, Samuel Langhorne Clemens (1835-1910) –nama penanya, Mark Twain– soal politikus.

“Politikus dan popok itu harus sering diganti, untuk alasan yang sama,” katanya. Terdengar sinis dan sarkas, tetapi masih relevan sampai sekarang.

Disarikan dari artikel “Politikus dan Popok”, tulisan M Subhan SD, dalam “Catatan Politik & Hukum” Kompas, yang terbit 15 Juni 2017 silam, secara sinonim, politikus dan popok memang harus diganti jika sudah tidak bersih lagi alias kotor.

Masih tulisan Subhan; di media sosial juga pernah beredar “kampanye” untuk tidak memilih politikus yang dinilai tidak aspiratif dan bertentangan dengan kehendak rakyat. Seperti politikus busuk, korup, dan penerus dinasti politik”.

Meski tampaknya rakyat terlihat “tak berdaya”, tetapi di era demokrasi langsung dengan sistem one man one vote, suara rakyat begitu berharga dan menentukan. Inilah senjata pamungkasnya.

Jika politikus sudah kotor, seperti popok, memang harus diganti. Mark Twain seakan mengingatkan kita, terlebih menjelang pemilihan kepala daerah 2024 ini. Inilah perlawanan terakhir yang dimiliki rakyat.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Pesan Filosofis Marlin untuk Warga Setokok: Naiklah Tinggi tanpa Menjatuhkan Orang Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *