SEORANG dokter bernama Bernard Rieux, yang dengan gigih merawat korban-korban penyakit pes di Kota Oran, Aljazair, dituduh “sok pahlawan” oleh seorang wartawan yang sangat jengkel karena tak mau meninggalkan kota yang di-lockdown itu.
“There’s no question of heroism in all this. It’s a matter of common decency. That’s an idea which may make some people smile, but the only means of fighting a plague is common decency,” jawab Rieux dengan datar.
Sulit mencari istilah khas Indonesia untuk “common decency”. Sementara kita bisa menerjemahkannya sebagai “kepantasan umum”, atau opsi lebih ringkas lagi: kepatutan. Ia merujuk tindakan yang dituntut nalar wajar sebuah masyarakat.
Dr. Rieux dari Oran memang fiktif, diambil dari novel “The Plague” karya Albert Camus. Namun, jawaban dari Dr. Rieux layak disimak.
Melalui kepatutan Dr. Rieux dan beberapa tokoh lainnya, Camus menyodorkan “proposal” yang realistis untuk dilakukan siapa pun di masa pandemi: bertindaklah menurut ukuran-ukuran kepatutan.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
>>>Dikutip dari tulisan Zen RS. Naskah ini mula-mula dan lebih dulu diperuntukkan untuk newsletter internal Narasi TV.






