SAAT ini Pemerintah Kota Batam, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Kelurahan. Di ajang ini, pendekatan komunikasi bottom-up lebih dominan. Hal ini menarik dicermati.
SAAT ini Pemerintah Kota Batam, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Kelurahan. Di ajang ini, pendekatan komunikasi bottom-up lebih dominan. Hal ini menarik dicermati.
Dalam menciptakan sebuah organisasi manajemen yang efektif, terdapat dua jenis pendekatan komunikasi organisasi, yakni pendekatan top-down dan pendekatan bottom-up.
Pendekatan top-down paling umum diterapkan mayoritas organisasi, yang mana komunikasi dan arahan ditetapkan oleh pimpinan kepada anggota. Dalam hal Musrenbang ini anggota organisasi adalah masyarakat.
Sedangkan pendekatan bottom-up, komunikasi dan arahannya sebagian besar ditetapkan dan disuarakan oleh para anggota organisasi kepada pimpinan atau manajemen tingkat atas.
Keuntungan yang diperoleh dari pendekatan komunikasi bottom-up ini adalah, komunikasi di seluruh lingkup menjadi meningkat, dan hubungan antar anggota menjadi lebih erat.
Selain itu, anggota organisasi (masyarakat) merasa dirinya dianggap dengan pendapatnya didengar oleh para pimpinannya.
Lewat Musrenbang inilah, Wali Kota Batam H Muhammad Rudi (HMR), mendapat sejumlah ide atau masukan mengenai keputusan yang akan dibuat, yang bersumber dari warga.
Selanjutnya dikomunikasikan kepada seluruh tim di tingkat atas. Dari sini langsung dicari solusi efektif, agar masyarakat segera terbantu.
Jadi bukan sebatas didengar saja. Kalau hanya mendengar tapi tak dikerjakan, itu bukan membantu, tapi membuang waktu. Hal semacam ini bukan watak seorang pemimpin, melainkan orang iseng yang suka ngerjain.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






