“JANGAN main bola, nanti kakimu patah!” Atau, “Jangan mandi di sungai nanti diculik setan.” Mungkin dulu kita sering mendengar nasihat semacam ini.
Orang zaman sekarang menyebutnya sebagai “fear mongering” atau “scare mongering” yakni kampanye menjual ketakutan.
Dilansir dari Source PR, fear mongering adalah teknik manipulasi menggunakan suatu rumor atau bahaya yang dilebih-lebihkan sehingga menyebabkan rasa takut yang semestinya tidak perlu.
Mungkin kampanye semacam ini tujuannya baik, yakni meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan kesadaran mengenai suatu isu, dan mengubah perilaku buruk.
Namun efek buruknya dapat membuat orang kurang rasional, rentan terhadap berita hoax, serta mengganggu kesehatan fisik dan mental.
Bahayanya lagi jika fear mongering terus-menerus dicekoki kepada generasi muda, maka akan membuat mereka lembek, mudah sekali untuk menyerah, mudah sakit hati, lamban, egois, serta pesimis terhadap masa depan. Mirip ciri dalam buku “Strawberry Generation” yang ditulis Profesor Rhenald Kasali.
Filsuf Socrates pernah berkata, “Hidup yang tak teruji tak layak dijalani.” Beda lagi kata Sutan Sjahrir, “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.”
Bagaimana generasi muda kita bisa maju jika mau main bola saja sudah ditakut-takuti patah kaki.
Bagaimana menurut Anda?(ski)






