INSPIRASI PAGI: Hidangan Lebaran

SETELAH lebih dari 500 tahun sejak pertama kali diperkenalkan di Indonesia, lebaran telah melampaui perjalanan periode yang memperkaya tradisinya dengan berbagai pengaruh kuliner.

Journal of Ethnic Foods, menurunkan kajian pustaka secara metodologis tentang sebaran hidangan lebaran di Indonesia. Judulnya; Diversity of Indonesian Lebaran Dishes: From History to Recent Business Perspectives.

Kesimpulannya, ada 165 hidangan lebaran ditemukan dan didistribusikan secara luas di 26 provinsi, sebagian besar Indonesia Barat dan tengah (selengkapnya bisa lihat di tabel/foto yang kami sertakan, red).

Hidangan ini didominasi oleh lontong (31 jenis), kari (26 jenis), semur (18 jenis) dan kue kering (18 jenis), yang menunjukkan pengaruh tradisi kuliner lokal dan asing (masakan India, Arab, China, Polinesia, dan Eropa Barat.

Jejak kuliner yang “terinspirasi” dari berbagai kari India, banyak ditemukan di Sumatra serta sebagian Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi; hidangan seperti gulai nangka, gulai taboh, topak lodeh dan ayam gegape.

Pengaruh kuliner China banyak ditemukan di Sumatra Timur serta beberapa bagian Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi; makanan seperti bakso, mie goreng/rebus, pempek, kue geplak, dan bajabu, yang masing-masing terinspirasi dari wanzi (bakso) China, lamian (hidangan mi), ngo hiang (kue ikan), kue tauchi (kue beras tumbuk), dan rousong.

Sementara pengaruh kuliner Eropa Barat, umumnya berbentuk kue. Seperti kue lidah kucing, lapis Surabaya, bistik Solo, dan kue tat (pai nanas khas Bengkulu), yang masing-masing merupakan adaptasi dari kattentongen Belanda, spekkoek (kue lapis khas Belanda), hollandaise biefstuk Belanda, dan pai nanas khas Portugis.

Selain itu, pengaruh tradisi kuliner lokal (adat) dalam berbagai hidangan seperti asam padeh, pindang Betawi, lêpêt, nasi sungkui, leppe’-leppe’, dan manuk beikut.

Sedang jejak kuliner Arab dan Indonesia Timur sangat terbatas; masing-masing hanya ditemukan dalam kue makmur dan papeda.

Berbagai pengaruh kuliner terhadap hidangan lebaran merupakan bukti bahwa Islam tidak melarang segala bentuk akulturasi (termasuk dalam tradisi kuliner) selama mengikuti syariah.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  WARTA FOTO: Canda Wagub Marlin Bersama Murid TK Satu Atap, SDN 006 Galang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *