INSPIRASI PAGI: Jembatan Generasi

GENERASI yang lahir di tahun 80 ke bawah atau 90-an, dibesarkan di dunia yang kini sudah hilang. Di mana persahabatan berarti mengetuk pintu seseorang, dan Minggu pagi adalah waktu duduk manis di depan televisi melihat kartun.

Kebahagiaan generasi ini datang dari kaset campuran, naik sepeda, dan ketika lampu jalan sudah seterang senja, menjadi penanda bahwa sudah waktunya untuk pulang.

Berbeda dengan anak-anak kita sekarang, khususnya, Generasi Alpha yang lahir sekitar 2010-2024. Mereka adalah digital native yang bahkan masih di dalam kandungan sudah dikenalkan dengan handphone.

Persahabatan mereka dilakukan dengan bertukar pesan, hidupnya diukur dari algoritma, dan kebahagiaannya datang dari notifikasi atau umpan di media sosial.

Namun di balik emoji atau story yang ceria, sering ada tanda-tanda kecil dari kelelahan, kesepian, dan rasa tidak cukup. Bahkan penelitian menyebut, generasi digital ini rentan anxiety (nanti kita bahas di sesi lain). Karena dunia berubah menjadi lebih cepat, lebih keras, dan lebih sulit untuk melarikan diri.

Inilah pentingnya orang tua, sebagai yang pertama tumbuh beradaptasi dengan teknologi, menjadi jembatan, agar anak-anak kita menjadi generasi tangguh yang anti-fragile. Bukan anxious generation.

Mulai sekarang, sambungkan kembali yang terputus, yaitu hubungan antara manusia dengan dunia nyata. Karena anak-anak kita menjadi pintar dan kuat, bukan yang selalu dilindungi, tetapi ketika kita bisa membimbing mereka melewati tantangan dan rasa sakit itu.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  HMR Ajak Masyarakat Jaga Tiga Tolok Ukur Keberhasilan Pembangunan Batam Kota Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *