INSPIRASI PAGI: Kartini, Kebaya & Buku

PERAYAAN Hari Kartini selalu identik dengan busana tradisional, terutama kebaya, lantaran perempuan yang lahir pada 21 April 1879, atau 146 tahun lalu itu, selalu lekat dengan kebaya yang memiliki ciri khas berupa kerah setali yang menghiasi leher hingga bagian bawah.

Namun, jangan sampai “kebaya Kartini” mereduksi esensi sebenarnya perjuangan perempuan hebat yang dikenal berkat surat-suratnya yang diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, itu.

Generasi muda saat ini harus tahu bahwa semasa hayatnya, Pahlawan Pergerakan Nasional yang berjuang menyuarakan emansipasi wanita tersebut, punya pemikiran maju dan terbuka, karena sejak remaja suka membaca buku.

Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20 tahun itu, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.

Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda!

Karena bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.

Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk studi ke Eropa, dan memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Sebuah pemikiran yang melampaui zamannya.

Ini bukan semata soal kebaya, melainkan mindset yang dibangun melalui budaya literasi. Seperti yang dikatakan cendekiawan Muslim Nur Cholis Majid, “Pengetahuan adalah cahaya, buku adalah pelitanya.”

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Referensi:
> Buku: Kartini Mati Dibunuh, karya Efatino Febriana

> Buku: Kartini, Sebuah Biografi, karya Sitisoemandari

> Tempo

> Kompas

BACA JUGA:  Rabu - Sampai Jumat, Sembilan Kecamatan Bakal Diguyur Bahan Pangan Murah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *