PADA tahun 1962, Indonesia, menyelenggarakan Asian Games ke-4, dengan tak mengundang Israel dan Taiwan. Indonesia menganggap Israel sebagai bangsa penjajah Palestina dan karenanya perlu diboikot. Sedangkan untuk Taiwan, Indonesia menganggapnya masih bagian dari Republik Rakyat China (RRC).
Tindakan ini menuai kritik dari berbagai pihak, terutama Komite Olimpiade Internasional (IOC). Bagi IOC, ajang olahraga harus lepas dari politik, harus netral. Hasilnya, pada 7 Februari 1963, IOC menangguhkan keikutsertaan Indonesia dalam Olimpiade.
Keputusan ini membuat Sukarno, Presiden Indonesia kala itu, dongkol. Baginya, olahraga bukan hal yang terpisah dari politik. Baginya, olahraga dapat ditafsirkan sebagai salah satu saluran aspirasi politik, sebagaimana tertulis dalam Buletin Ganefo edisi pertama (Juli 1963).
Lagi pula, IOC juga mencampuradukkan politik dan olahraga. “Mari berkata jujur.. Saat mereka (IOC) mengucilkan RRC, apakah itu bukan politik? Saat mereka tak ramah dengan Republik Arab Bersatu, apakah itu bukan politik? Saat mereka tak ramah pada Korea Utara, itu bukan politik? Saat mereka mengucilkan Vietnam Utara, itu bukan politik? Saya hanya sedang jujur,” katanya.
Dari sini kemudian Presiden Sukarno memprakarsai pesta olahraga Games of the Emerging Forces atau Ganefo, yang digelar pada Sabtu, 10 November 1963, hingga 22 November 1963.
Total 47 negara yang ikut serta dalam upacara pembukaan di Stadion Gelora Bung Karno dan dibuka sendiri oleh Presiden Sukarno. Dalam pidatonya Sukarno menyebut new emerging force adalah kekuatan raksasa yang terdiri dari bangsa-bangsa yang tertindas.
Dari peristiwa ini kita belajar tentang bagaimana cara pemimpin besar berpikir dan bertindak. Di antaranya mengambil langkah progresif, dengan tekad membangun satu dunia baru yang penuh dengan keadilan, persahabatan, tanpa imperialisme dan kolonialisme.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






