PASCA-Perang Dunia Kedua, peperangan udara menjadi cabang utama operasi militer, dan menjadi penentu kemenangan awal. Sampai-sampai saat itu muncul ungkapan, “Musuh memenangkan pertempuran mereka dari udara!”
Semula perang udara hanya untuk pengintaian dan penyerangan ringan, kemudian berevolusi menjadi serangan strategis yang kuat dengan bantuan teknologi seperti pesawat tempur, peluru kendali berpemandu, dan terakhir drone atau pesawat nirawak.
Teknologi drone telah digunakan secara luas dalam konflik bersenjata abad ke-21. Bahkan menjadi yang utama dalam operasi militer. Sebab, mampu berfungsi sebagai rudal, pengintai otonom, pelaku serangan presisi, hingga pengiriman logistik!
Contoh yang paling dahsyat bagaimana perang drone antara Rusia-Ukraina, mampu mengubah peta konflik. Yang terbaru, juga dapat dilihat dalam konflik India-Pakistan. Perang pun tak ubahnya “main remote control”.
Meski pengerahan drone merupakan opsi tingkat rendah dalam militer, namun cukup efektif dan “murah” dibandingkan mengerahkan jet tempur atau peluru kendali berpemandu.
Kenapa tak langsung perang darat? Dunia banyak belajar dari Sindrom Vietnam (Vietnam Syndrome), bagaimana tentara Amerika yang menjadi jawara Perang Dunia Kedua, lintang pukang dihajar pasukan “tradisional” Vietnam Utara, dan akhirnya pada 30 April 1975, ditendang dari Saigon (kini Ho Chi Minh).
Trauma ini cukup membekas, sehingga Amerika (juga negara-negara lain), masih takut terlibat perang darat besar-besaran, dan lebih suka serang dari jauh (serangan udara, dan drone).
Ah, jadi teringat ucapan Perdana Menteri Inggris di era Perang Dunia Kedua, Winston Churchill, “Masa depan bangsa kita selamanya terikat pada pengembangan kekuatan udara.”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
Referensi:
> Australian Army Research Centre: How are Drones Changing Modern Warfare?
> Council on Foreign Relation: How the Drone War in Ukraine Is Transforming Conflict
> Ayman Rashdan Wong, penulis (Malaysia) buku “Adikuasa Merebut Orde Dunia”
INSPIRASI PAGI: Perang Remote Control






