WAKIL WALI Kota Batam Li Claudia Chandra, menggebrak lagi! Ia menginstruksikan pembentukan satgas khusus untuk merapikan dan menyatukan data kependudukan. Ini bagus, agar program Pemko Batam tepat sasaran, khususnya dalam menekan kemiskinan dan pengangguran.
Gebrakan demi gebrakan yang dilakukan Li Claudia, menandakan pemerintahan dikelola lebih berpengetahuan dan berpandangan jauh ke depan. Sekaligus meyakinkan kita bahwa para pekerja pemerintah telah melayani publik dengan lebih efektif.
Pentingnya eksekutor (eksekutif) yang kompeten semacam Li Claudia ini, mengingatkan kita tentang tanda bahaya dalam tata kelola pemerintahan, yang diulas Michael Lewis, dalam buku keduanya, “The Fifth Risk”.
Menurut Lewis, ketika posisi strategis diisi oleh orang yang tidak kompeten, risikonya bukan sekadar kebijakan yang buruk, juga kegagalan sistemik yang bisa berdampak luas. Ia menyebutnya sebagai “risiko yang tidak terlihat, tetapi paling berbahaya”.
Pesan dalam buku ini, kembali dikutipĀ Denny JA, penulis dan konsultan politik Indonesia, dalam tulisannya berjudul “Mengapa Saya Tetap Optimis terhadap Prabowo”.
Kepemimpinan, kutip Denny, tidak cukup hanya dengan visi. Ia membutuhkan eksekusi. Dan eksekusi bergantung pada kualitas orang-orang di dalam sistem.
“Bagi Indonesia, pesan ini sangat relevan. Tanpa lapisan teknokratis yang kuat, visi sebesar apa pun akan gagal diimplementasikan. Maka memperkuat birokrasi bukan pilihan. Ia adalah keharusan,” tukasnya.
Bagaimana menurut Anda? (riza)
INSPIRASI PAGI: Sang Penggebrak






