INSPIRASI PAGI: Selamat Hari Pers Nasional

PRODUK pers saat ini tak akan lepas dari kerja-kerja generasi C, generasi Digital.
Lalu apa itu generasi C?

Dalam buku, Craking Zone, Rhenald Kasali menulis, ”Generasi C” atau ”Gen C”, bukanlah menunjuk pada angkatan kelahiran, melainkan sebutan generasi baru yang dibentuk oleh generasi digital (native digital).

Generasi C ini bergaul setara, tanpa dibatasi usia dan status sosial lainnya. Mereka lahir dengan mouse di tangan. Suku mereka bisa jadi Tiktok, YouTube, facebook, twitter, WhatsApp, game on line dan sebagainya.

Usia mereka ada yang masih anak SD, namun juga bisa juga dewasa, yang berumur 40 tahunan. Pokoknya mereka berada di tengah-tengah teknologi digital. Mereka bisa jadi ada di Tokyo, New York dan tentu saja Batam.

BACA JUGA:  Jika Terpilih Gubernur Kepri, HMR Langsung Lakukan Pembangunan di 100 Hari Pertama

Mereka adalah aktivis dunia maya. Di antara mereka adalah bagian dari lebih 500 juta facebooker di seluruh dunia, yang meng-update 60 juta status perhari, meng up-load 3 miliar foto setiap bulannya, menyebarkan 5 miliar content (web links, sharing berita, tulisan blog, catatan, foto dan lain-lain) tiap minggunya, dan menghabiskan 700 miliar menit perbulan untuk mengakses (data tahun 2013).

Dan Pakarz, seorang peneliti Australia mengatakan, C yang dimaksud di sini bisa berarti content, connected, digital creative, cocreation, costomize, curiosity, dan cyborg. Namun bisa juga berarti cyber, cracker, dan chameleon (bunglon).

Mereka sangat aktif dan partisipatif menjelajah dunia online baik lewat komputer maupun ponsel. Tak hanya pengunjung juga pencipta masyarakat online di dalamnya. Mereka juga menjadi follower orang-orang hebat dan lebih mudah menemukan fakta-fakta, konsep atau teori baru.

BACA JUGA:  INSPIRASI JUMAT: Cinta kepada Rasulullah

Selain itu, di sini mereka bebas mengutarakan opini, saling berbagi isu hangat baik tingkat lokal maupun dunia kemudian didiskusikan bersama. Bahkan juga menjadi wartawan dadakan (citizen journalism). Karena itu, Gen C sangat ampuh mengusung perubahan.

Dari uraian ini, wartawan saat ini, baik reporter lebih-lebih redaktur, harusnya lebih jago memerangi hoax dengan menyajikan data dan fakta lebih hebat dan mendalam dibanding wartawan era kuli disket, bahkan kuli tinta. Bukan malah sebaliknya.

Sehingga pers nasional, di samping tetap menjunjung kebebasan dan demokrasi, juga akan terus bermartabat.

Bagaimana menurut Anda?(ski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *