INSPIRASI PAGI: Tetap Membumi

ULAMA kebanggaan Nahdlatul Ulama (NU) Gus Baha, atau KH Bahauddin Nursalim, terus menjadi magnet bagi beragam kalangan hingga saat ini. Selain karena pesan dakwahnya, juga kesederhanaannya.

Ia selalu terlihat mengenakan baju putih, sarung, dan kopiah yang kadang terpasang miring. Dalam pengajian Gus Baha duduk di lantai. Jarang terlihat di atas podium, bahkan duduk di kursi.

Gus Baha dengan tegas menjelaskan bahwa tujuannya bukanlah untuk menunjukkan superioritas atau otoritas atas pendengarnya. Sebaliknya ia ingin berada dalam posisi yang sama dengan para pendengarnya sebagai pencari ilmu di hadapan Allah SWT.

Di luar panggung pengajian, Gus Baha dikenal sebagai sosok yang mudah diakses dan bersahaja, siap membantu siapa pun yang membutuhkan, tanpa memandang status sosial atau latar belakang.

Adakalanya saat jalan kaki ke pasar Pandangan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah, bersama anak, dia dihentikan jemaah yang bertanya tentang hukum agama. Dengan senang hati langsung dijawab saat itu juga sambil sama-sama berdiri.

“Kalau ngaji saja nunggu diundang di atas panggung, biayanya mahal. Dulu tidak (seperti itu yang dilakukan) kyai-kyai ikhlas seperti Mbah Fayumi (KH Ahmad Fayumi Munji, Ulama Kajen Ahli Falak yang Kharismatik), ketemu (orang) mau ngaji, langsung ngaji. Tak usah nunggu di pmggi,” jelasnya.

Melalui tindakannya, ia tidak hanya menyampaikan pesan tentang kesetaraan di antara umat Islam, tetapi juga mengingatkan dirinya sendiri dan orang lain tentang pentingnya sikap rendah hati dalam beribadah.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Wow, Penarikan Uang Meningkat Selama Ramadan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *