Jefridin ke Belakangpadang, Buka Pesantren Ramadan hingga Ziarahi Makam Sunan Thulub

BELAKANGPADANG, KataBatam- Sekretaris Daerah Kota Batam H Jefridin, melakukan perjalanan religi di Pulau Belakangpadang, Minggu (2/4/2023) pagi, atau tepat 11 Ramadan 1444 Hijriah.

Dimulai dari membuka Pesantren Ramadan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Belakangpadang, di Masjid At Taqwa.

Acara ini disejalankan dengan penyerahan paket sembako Ramadan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Batam kepada Muslimat NU dan Badan Kontak Majelis Taklim Belakangpadang. Dalam kesempatan ini Jefridin didampingi Wakil Ketua II Baznas Kota Batam Habib Soleh.

Usai dari acara ini, Jefridin dan rombongan malakukan ziarah ke makam Sunan Thulub, di Pulau Tulup, 10 menit perjalanan laut dari Belakangpadang.

𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗧𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗱𝗶 𝗕𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻𝗴𝗽𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴

Dalam sambutannya di Pesantren Ramadan tersebut, Jefridin mengungkap fakta bahwa Belakangpadang adalah rumah kedua baginya.

“Di awal berkarier sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kota Batam) saya bertugas di sini selama lima tahun,” ungkapnya.

Saat itu, Jefridin masih tinggal di Tanjunguma, sebelum pindah ke Tiban I seperti saat ini. Di Belakangpadang ia mengajar di SMP Negeri 1 Batam, periode 1998-2002.

BACA JUGA:  HMR Hadir di Hari Pertama Sekolah, Orang Tua Merasa Senang, Murid-murid Ngajak Tos

“Jadi setiap hari saya bolak-balik Batam-Belakangpadang, naik boat pancung dari Pelabuhan Sekupang. Hingga akhirnya operator boat tersebut jadi langganan tetap,” kisahnya.

Karena lama dinas di Belakangpadang, maka wajar jika Jefridin banyak punya teman bahkan kakak angkat, serta murid di Pulau Penawar Rindu ini. Sampai sekarang masih dia hafal namanya.

Dua kakak angkat Jefridin ini juga hadir pada pengajian tersebut. Namanya Suharti alias Atik, dan Mayatun alias Atun. “Ada ibu Atik dan Ibu Atun di sini? Silakan berdiri,” pintanya.

Kemudian dua nama yang dimaksud berdiri. “Nah dia ini sudah seperti kakak sendiri bagi saya,” kisahnya.

Namun, seiring usia, banyak pula teman Jefridin di Belakangpadang yang saat ini sudah meninggal dunia.

Dari kisah ini, maka tak heran jika Jefridin selalu disambut hangat warga Belakangladang jika berkunjung ke pulau tersebut.

BACA JUGA:  25 Tahun DPRD Kota Batam, Amsakar Ajak Seimbangkan Gagasan Wujudkan Batam Hebat

Termasuk dalam kunjungan kali ini. Sepanjang perjalanan dari pelabuhan ke masjid At-Taqwa, Jefridin banyak disapa warga setempat yang ternyata teman atau muridnya dahulu.

“Itulah mengapa bagi saya Belakangpadang benar-benar pulau penawar rindu, pada masa-masa berkarier dulu,” terangnya.

𝗭𝗶𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗸𝗲 𝗠𝗮𝗸𝗮𝗺 𝗦𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗧𝗵𝘂𝗹𝘂𝗯

Usai dari Belakangpadang, Jefridin dan rombongan berangkat ke Pulau Tulup.

Begitu menapakkan kaki di Pulau Tulup, tampak sebuah tulisan besar menyambut wisatawan: Wisata Religius. Pulau Tulup menyimpan jejak para ulama yang menyebarkan Islam di Nusantara.

Sebenarnya ada tiga makam pemuka agama Islam di Pulau Tulup yang posisinya terpisah di Pulau Tulup Kecil dan Pulau Tulup Besar.

Dua makam syekh di Pulau Tulup Kecil adalah Syekh Syarif Ainun Naim dan Syekh Maulana Nuh Maghrobi. Adapun di Pulau Tulup Besar terdapat makam Habib Hasan Al Musawa. Yang diziarahi Jefridin adalah makam Syekh Syarif Ainun Naim yang bergelar Sunan Thulub.

BACA JUGA:  Pandemi Mulai Terkendali, HMR Gandeng Banyak Instansi Bangkitkan Pariwisata Batam

Makam Sunan Thulub berada di atas bukit. Dari bibir pulau, perlu perjuangan ekstra agar bisa mendaki sekitar 20 langkah untuk mencapai anak tangga pertama menuju bukit.

Jarak antara anak tangga cukup tinggi, sehingga membuat rombongan terengah-engah agar bisa ke puncaknya. Apalagi pas bulan puasa seperti ini.

Begitu kaki menapak pada anak tangga teratas, rombongan disambut pemandangan elok : hamparan laut biru dan pulau-pulau di sekeliling.

Dilansir dari Antara, “Syekh Syarif Ainun Naim ini kakak beradik dengan Sunan Giri,” kata Budi, penjaga pulau.

Dalam catatan, Syekh Syarif Ainun Naim lahir di Samudra Pasai. Ada yang menyebut tokoh ini lahir pada 842 Hijriah, dan wafat pada 908 Hijriah (1438-1502 Masehi). Ada pula versi yang menyebut dia lahir pada 761 Hijriah dan wafat pada 842 Hijriah (1359-1438 Masehi).

Setelah dirasa cukup berziarah, matahari pun mulai tinggi, Jefridin dan rombongan pun berangkat kembali ke Batam, tepatnya di Pelabuhan Domestik Sekupang.(ski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *