DISADARI atau tidak, masih banyak yang tak paham arti kebebasan berpendapat. Kata “bebas” dipahami sebagai tanpa aturan, logika, etika, dan bebas hukum.
Contoh, serangan verbal terhadap personalitas orang, pejabat atau orang yang berargumen (disebut ad hominem). Misalnya memakai teknik agitasi, pelabelan, fitnah, dan hujatan, lalu disebar lewat media sosial hingga spanduk di tepi jalan.
Akibatnya kebebasan berpendapat yang agung, berubah menjadi ujaran kebencian. Kalau terus dibiarkan, maka akan mengancam kedamaian kita dalam bermasyarakat.
Kritik adalah soal teks, konteks dan pembuktian logis atas kekeliruan argumen di dalam teks tersebut. Ini tentu berbeda dengan hujatan, atau sesat pikir ad hominem. Yang pertama adalah jenis pemikiran ilmiah, sedangkan yang kedua adalah produk kedengkian.
Ingat, berkata benar itu selalu dimulai dari cara berpikir yang benar. Bukan sebaliknya. Karena kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






