HAJI AGUS SALIM, laki-laki asal Sumatra Barat lahir dengan nama asli Mashudul Haq (Pembela Kebenaran), dikenal memiliki pengetahuan luas.
Pengetahuan Salim yang luas dan penguasaannya pada banyak bahasa (pilygoth) membuatnya bisa menjawab perdebatan secara lugas.
Suatu ketika H Agus Salim yang cerdas dan berjanggut ini diejek sebagai “kambing”, oleh Muso, tokoh PKI dalam sebuah rapat.
“Yang berjenggot apa saudara-saudara?” tanya Muso ketika berpidato di atas podium.
Menjawab pertenyaan tersebut, hadirin dari Si Merah ramai-ramai berteriak, “kambing!”.
“Kalau yang berkumis?”, hadirin pun lalu ramai menyahut, “kucing!” .
Mendengar ejekan itu, ketika giliran H Agus Salim naik panggung pun membalasnya. Dari atas podium ketika berpidato dia pun bertanya balik bertanya pada hadirin.
“Tadi hewan-hewannya kurang lengkap, apa yang tidak berkumis dan tidak berjenggot (kebetulan Musso tidak berkumis dan berjenggot)?” tanya Agus Salim kepada peserta rapat.
Mendengar pertanyaan dari H Agus Salim yang berdiri di atas podium, hadirin lebih riuh menyahut dengen menyebut nama hewan, “anjing!”.
Musso dan para peledek H Agus Salim terdiam. Dia tak bisa melakukan “tendangan” balik kepada Agus Salim. Pertemuan itu dilanjutkan seperti biasa.
Semua tahu betapa H Agus Salim tidak “marah” atas ejekan itu serta membalikannya dengan argumen yang cerdas.
Ini juga menjadi bekal bagi para generasi Indonesia ketika hendak menjadi diplomat, politisi, atau pemimpin agar setiap kali berdebat harus memakai nalar dan argumentasi yang baik serta tak perlu marah-marah.
Di kemudian hari, nasihat diplomasi ala H Agus Salim diteruskan oleh mendiang mantan menteri luar negeri dan mantan Wakil Presiden Adam Malik.
Nasihatnya, dalam debat dan diplomasi semua itu harus lentur dan dibicarakan baik-baik. Katanya: ‘’Itu semua bisa diatur!’’
Bagaimana menurut Anda?(ski)






