SELAMA ini kita belum memiliki takaran yang pas dalam menilai baik tidaknya seseorang. Semua hanya dilandasi pada penilaian subjektif dan cenderung pragmatis.
Memang tak bisa dinafikan bahwa orang-orang bersaksi atas seseorang berdasar pengalaman mereka. Apa yang dikatakan mereka tentang kita adalah kesaksian tentang manfaat dan mudarat yang kita hadirkan selama hidup.
Jarang orang memberi penilaian objektif dengan meninjau pengalaman dirinya dan orang lain secara komprehensif.
Pokoknya orang yang menguntungkan dirinya adalah baik, dan yang tak menguntungkan adalah orang jahat.
Bagaimana kalau perbuatan orang yang membuatnya tak nyaman karena reaksi atas tindakannya sendiri yang buruk? Tetap saja tak terima. Lalu bikin drama playing victim: pelaku mengaku korban.
Sementara orang yang nyata-nyata sudah berbuat jahat, misal korup, khianat dan hak negatif lainnya, masih dinilai baik dan positif hanya karena ia mendapat kenikmatan dari orang tersebut.
Maka itu, jangan terlalu cepat menilai seseorang. Juga jangan terlalu benci atau teramat cinta. Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
“Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta” (HR Tirmidzi).
Bagaimana menurut Anda?(ski)






