INSPIRASI PAGI: Mental Pemimpin Besar

mental pemimpin besar
“KEBRUTALAN, kekejaman, atau siksaan tak akan pernah membuat saya meminta belas kasihan. Karena saya lebih suka mati dengan kepala tegak, iman yang tak tergoyahkan, dan keyakinan terbesar pada nasib negara saya, daripada hidup dalam perbudakan dan penghinaan terhadap prinsip-prinsip sakral.”

Kalimat ini bukan kata-kata mutiara yang dibuat seseorang penata kata untuk gagah-gagahan.

Ini adalah kata-kata terakhir Patrice Lumumba, Perdana Menteri Republik Demokratik Kongo pertama, pada 17 Januari 1961, sesaat sebelum dieksekusi regu tembak kelompok pengkhianat dan pemberontak dukungan Belgia, negara yang pernah menjajahnya.

Awalnya jasad Lumumba dikubur serampangan, tapi kemudian digali kembali di bawah arahan pejabat berwenang Belgia. Jenazah mereka lalu dipotong-potong, dilarutkan dalam asam, serta dibakar.

BACA JUGA:  INSPIRASI JUMAT: Tentang Kebaikan

Satu-satunya bagian tubuh yang tersisa setelah jenazah-jenazah itu dilarutkan dalam asam adalah sebuah gigi emas milik Lumumba.

Seorang polisi Belgia, Gerard Soete, diberi tugas untuk menyingkirkan barang bukti. Pada saat itulah dia mengantongi gigi itu dan membawanya ke Belgia.

Beberapa dekade kemudian, gigi emas pejuang kemerdekaan RD Kongo, yang mulai berkuasa pada 24 Juni 1960 tersebut, baru dikembalikan ke keluarga. Pemakaman Lumumba dihelat di alun-alun Kinshasa pada 30 Juni 2022, dan dihadiri oleh ratusan rakyat RD Kongo.

Dari kisah ini kita bisa belajar menakar mental seorang pemimpin besar. Dia memilih kuat dan teguh dalam pendirian. Bukannya berkhianat atau playing victim, meraung-raung meminta belas kasihan demi meraih keuntungan pribadi, meski harus mengorbankan rakyat dan bangsanya sendiri.

BACA JUGA:   INSPIRASI PAGI: Bangga, Bermartabat

Bagaimana menurut Anda? (ski)
______
DIPERKAYA artikel kompas 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *