Indonesia mulai keluar dari resesi ekonomi. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi di triwulan kedua 2021 naik 7 persen lebih dibandingkan dengan triwulan kedua tahun 2020. Artinya angka ini sudah mengambarkan pertumbuhan ekonomi mulai bergerak maju. Hanya perlu menjaga supaya setelah masa PPKM level IV berakhir 9 Agustus ini roda ekononomi tak anjlok jauh. Karena triwulan ketiga sangat menentukan purtumbuhan ekonomi Indonesia ke depan yang diprediksi World Bank berkisar 3-4 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau merilis pertumbuhan ekonomi Kepri 6,9 persen di triwulan kedua 2021 dibandingkan triwulan kedua tahun 2020. Jika dibandingkan triwulan pertama tahun 2021, ada kenaikan 0,01 persen. Walau Nampak tidak jauh namun sudah mulai bergerak ke arah labih baik.
Menurut catatan BPS Kepri yang dirilis awal Agustus 2021, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepulauan Riau tumbuh. Sektor yang banyak memberikan andil pertumbuhan yakni paling besar dari industri pengolahan yang mencapai 41,90 persen, kemudian bidang kontruksi menyumbang PDRB sebesar 19,24 persen, bidang pertambangan, penggalian sebanyak 11,90 persen, dan keempat adalah bidang perdagangan besar, eceran, reparasi mobil.
Yang menarik khusus di Kepri adalah, besarnya PDRB lebih dari 63,97 persen disumbangkan Batam. Kemudian kedua dari Bintan sebanyak 8,22 persen, ketiga dari Tanjungpinang 7,80 persen, keempat dari Natuna sebesar 7,30 persen. Lalu ada PDRB Anambas 5,73 persen, Karimun sebanyak 5,28 persen da Lingga 1,70 persen.
Rudi Sukses Gerakkan Mesin Pertumbuhan
Jika melihat besarnya PDRB Batam menyumbangkan PDRB Kepri, maka dapat dipastikan, Batam memang lebih gesit dalam melaksanakan menggerakan roda perekonomian yang menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi. Selain dari jumlah penduduk paling banyak dari penduduk daerah lainnya. Setidaknya ada empat mesin pertumbuhan ekonomi yang sukses dibangkit Pemerintah Kota Batam di bawah kendali Muhammad Rudi.
Pertama, mesin pertumbuhan investasi. Saat ini kita bisa lihat dari investasi di Batam melejit Rp7,76 triliun atau di masa pandemi naik sebesar 10,69 persen dibandingkan investasi di tahun 2020 periode Januari hingga Juni. Dari banyaknya proyek investasi tersebut tentu menambah jumlah proyek pembangunan berjumlah 2.567 pembangunan yang dapat dilihat proyek dari investasi asing mencapai 965 dan proyek penanaman modal dalam negeri 1.602.
Para ahli pembangunan telah lama mengemukakan bahwa investasi memiliki dampak terhadap pertumbuhan pendapatan per kapita daerah maupun negara. Hal ini mengandung arti bahwa suatu investasi akan berdampak terhadap pembangunan akan ditentukan oleh sektor atau bidang-bidang mana dalam investasi dilakukan.
Tambahan investasi senilai Rp6 triliun lebih untuk pengembangan Bandara Hang Nadim Batam jadi hub Indonesia dan internasional menjadi kabar baik bagi warga Kepri. Serta MoU dengan Sunseap Group guna pembangunan panel tenaga surya yang akan dioperasikan di Dam Duriangkang. Investasi senilai Rp 29 triliun itu akan menyerap 3.000 tenaga kerja di Batam.
Pentingnya investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, lebih bermanfaat dibandingkan, dampak pengeluaran konsumsi dalam pembentukan PDRB. Hal ini dikarenakan tambahan investasi akan menyebabkan tambahan kesempatan kerja yang selanjutnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Berbeda dengan investasi, dampak pengeluaran konsumsi walaupun mempunyai dampak multiplier tetapi effect langsung pada penambahan kesempatan kerja kurang jelas (Jamhadi,2009).
Batam sebagai kawasan investasi nasional sudah berada di jalan yang benar dengan banyaknya investasi asing dan dalam negeri masuk ke daerah ini.
Kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam, Bintan dan Karimun serta Tanjungpinang harus benar benar dimaksimalkan menarik investasi. Di sinilah ditunggu aksi Gubernur Kepri Ansar Ahmad untuk menarik investasi masuk ke daerah guna terciptanya kawasan investasi baru di luar Batam. Agar PDRB bisa menyebar tak bertumpu pada Batam semata.
Kita tentu terbiasa dengan Teori pertumbuhan Harrod Domar yang menyatakan investasi adalah komponen yang paling penting dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Apabila investasi meningkat maka secara effect multiplier PDB juga akan meningkat dalam jumlah yang lebih besar. Karena setiap pertambahan investasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Mesin pertumbuhan ekonomi kedua yang berhasil digerakkan Rudi melalui dua kekuatan Pemko Batam dan BP Batam adalah sisi belanja pemerintah. Rudi sukses mempercepat belanja APBD dan APBN di BP Batam melalui infrastruktur yang saat ini dibangun.
Dari sisi, belanja pemerintah, harusnya Pemko Tanjungpinang lebih kuat daya dorongnya jika serapan APBD dapat dimaksimalkan. Di Tanjungpinang ada belanja pemerintah di Tanjungpinang dan belanja Pemprov Kepri dan lembaga vertical lainnya. Proyek proyek pemerintah harus disegerakan dikerjakan agar banyak bisa menyerap lapangan pekerjaan terutama bidang swa kelola.
Ketiga, mesin pertumbuhan ekonomi lainnya dari ekspor, Batam menempati peringkat pertama dibandingkan daerah lainnya. Karena memang Batam banyak perusahaan yang berorientasi ekspor ke negara asing terutama Singapura. Hasil ekspor hasil industri Batam menyumbang 79 persen dari ekspor hasil industri Kepri karena di Batam saat ini memilii 26 Kawasan Industri serta PMA. Kawasan industri di Bintan, Karimun sejauh ini belum banyak menghasilkan produk ekpor. Kita berharap ke depan kawasan KEK Galang Batang di Bintan bisa menambah kapasitas ekspor Kepri ke depan.
Kemudian mesin pertumbuhan keempat adalah dari sisi konsumsi. Menarik ide dari Rudi dengan mengajak pegawai Pemko Batam, BP Batam dan pegawai BUMN hingga pegawai swasta di Batam untuk belanja ke pelaku usaha UMKM. Dengan banyaknya konsumsi belanja ASN maupun pegawai ke pedagang dan pelaku UMKM lainnya maka akan membantu pendapatan mereka. Jumlah penduduk Batam yang besar lebih dari 1 juta jiwa, menyebabkan sektor konsumsi di Batam sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menurut P.A. Samuelson dan W.D. Nordhaus dalam buku berjudul Makro Ekonomi (1992) konsumsi adalah salah satu bagian dari pendapatan yang dibelanjakan untuk pembelian barang-barang dan jasa-jasa untuk mendapatkan kepuasan dan memenuhi kebutuhan hidup. Orang akan tetap belanja memenuhi keperluan hidupnya. Namun di masa pandemi, warga bisa saja membatasi pengeluaran konsumsi. Anjuran dari Rudi itu bagian dari ide kreatif untuk mengoptimalkan konsumsi guna mendoring pertumbuhan ekonomi.
Apabila konsumsi mengalami peningkatan maka akan mengakibatkan terjadinya kenaikan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya apabila konsumsi mengalami penurunan maka pertumbuhan ekonomi juga akan mengalami penurunan. Kegiatan rumah tangga se Kepri untuk belanja di pasar, membeli baju, makan di rumah makan adalah konsumsi.
Kalau kita melihat teori Maynard Keynes, kontribusi konsumsi sangat besar dalam dunia perekonomian yang membentuk PDRB daerah maupun PDB suatu negara. Karena porsinya yang besar itulah, maka pengeluaran konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga mempunyai pengaruh yang besar pula terhadap stabilitas perekonomian. Ajakan Rudi mengajak makan lele itu dalam rangka menaikkan konsumsi sehingga menggerakan roda perekonomian yang berujung kepada peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Di masa pandemi ini diperlukan pemimpin yang kreatif untuk berkreasi menciptakan pertumbuhan ekonomi agar tidak lama minus pertumbuhan. Ajakan belanja bagi mereka yang tidak pendapatannya tetap stabil merupakan sebuah trobosan bagus guna menjaga kestabilan ekonomi. Hendaknya kepala daerah lain juga dapat mengajak pihak yang mampu berbelanja agar roda perekonomian di tengah masyarakat terdongkrak.**
Robby Patria, Wakil Ketua ICMI Tanjungpinang






