DI ZAMAN kala media sosial sudah meraja seperti saat ini, sering kita lihat kebencian dan fitnah berlalu-lalang. Ibarat api, cepat menjalar membumi hanguskan semua.
Energi para pembenci ini juga luar biasa. Siang dan malam selalu “bekerja” agar agendanya tercapai: mengumpulkan pengikut sebanyak mungkin untuk ikut membenci orang yang dia benci.
Namun kita sebagai manusia berakal, tak boleh larut oleh permainan mereka. Tetaplah jernih dalam memandang masalah. Bagai ikan, tak ikut asin meski berada dalam samudera luas.
Yakinlah, tak akan ada kebahagiaan dengan membenci. Yang ada hanyalah petaka. Ibarat kata Nelson Mandela, “Kebencian seperti meminum racun dan berharap musuhmu yang terbunuh.” ***






