SAAT perjalanan bersama murid-muridnya, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, berpapasan dengan seorang yang sedang mabuk berat. Tak disangka, pemabuk tersebut menanyakan tiga hal.
Wahai Syekh, apakah Allah mampu mengubah pemabuk sepertiku menjadi ahli taat?”
“Tentu mampu, Allah Maha Kuasa,” jawab Syekh Abdul Qadir Al-Jalani.
Kemudian si pemabuk bertanya lagi, “Apakah Allah mampu mengubah ahli maksiat sepertiku menjadi ahli taat setingkat dirimu?
“Sangat mampu. Allah Maha Kuasa Atas segala sesuatu,” balas ulama besar ini.
Si pemabuk bertanya kembali, “Apakah Allah mampu mengubah dirimu menjadi ahli maksiat sepertiku?”
Mendengar pertanyaan ketiga, seketika itu Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani menangis tersungkur dan bersujud kepada Allah.
Murid-muridnya pun penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya,
“Wahai Tuan, apa gerangan yang membuatmu menangis?”
Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani menjawab, “Betul sekali si pemabuk itu. Pertanyaan terakhir yang menyebabkanku menangis karena takut kepada Allah. Kapan saja Allah mampu mengubah nasib seseorang termasuk diriku. Siapa yang bisa menjamin diriku bernasib baik, meninggal dalam keadaan husnul khotimah?”
“Pertanyaan itu pula yang mendorongku untuk bersujud dan berdoa kepada Allah, agar tidak menjadikanku merasa aman terhadap rencana Allah. Semoga Allah memelihara kesehatanku dan menutupi aibku,” sambungnya.
Pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah ini adalah agar kita tidak tertipu dengan kedudukan, amal perbuatan, dan ilmu yang kita miliki.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






