DALAM kolom Bahasa di majalah Tempo edisi 26 Mei – 1 Juni 2014, Bagja Hidayat menulis, bagi orang Jawa dan orang Sunda, bahasa adalah seloka: artinya, kata dan kalimat tak mesti mengacu pada makna sebenarnya.
Sehingga, dalam bahasa Jawa dan Sunda ada banyak padanan kata untuk menyebut alat kelamin. Dengan undak-usuk basa yang ada dalam bahasa-ibu mereka, bahasa Indonesia yang adakalanya suka blak-blakan menjadi cenderung eufemistis (melembutkan dengan permainan simbol).
Budaya yang menganggap tak berbicara langsung pada makna sebenarnya sebagai ukuran kesopanan inilah yang kian mendorong bahasa Indonesia menjadi ambigu.
Misalnya, bagi orang Jawa dan Sunda, kata “aku” dan “kau” agak kasar karena menunjuk langsung, sementara “Anda” terlampau formal.
Maka jadilah ”kita” sebagai padanan bahasa baru yang dirasa pas agar tak terkesan menyombongkan diri.
Berdasar hal inilah, semakin tinggi status sosial masyarakat, maka mereka semakin kurang nyaman akan hal-hal yang vulgar baik bahasa dan gambar.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






