INSPIRASI PAGI: Seni Mencintai

ADA istilah dalam bahasa Yunani untuk menggambarkan cinta yang dilandasi hubungan ikatan batin yang sangat kuat, yakni “agape”.

Agape adalah cinta persaudaraan, bukan sekadar persahabatan karena saling ketergantungan satu sama lain. Ia adalah bentuk tertinggi cinta manusiawi. Bukan eros, cinta yang didorong nafsu seksual.

Dalam buku “Seni Mencintai”, Erich Fromm, seorang filsuf sekaligus psikoanalis yang ahli teori sosial, lebih spesifik lagi menggambarkan apa itu cinta. Menurutnya, cinta memiliki paradoks bahwa dua insan menjadi satu, tapi tetap menjadi dua.

Artinya, tidak ada kepemilikan dalam menjalin hubungan, sehingga tidak ada yang didominasi atau dikuasai untuk memenuhi keinginannya. Masing-masing individu berhak memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya secara penuh.

Relasi demikian menjadi sebuah relasi sehat yang tidak ada keterpaksaan diantaranya. Cinta adalah rasa saling menghormati.

Rasa hormat ini berarti menyadari bahwa setiap individu memiliki kekhasannya masing-masing dan peduli bahwa orang lain, termasuk pasangan kita, punya kesempatan untuk berkembang dan bertumbuh sebagai dirinya sendiri.

Selain itu, Erich Fromm mengemukakan konsep “cinta itu memberi bukan menerima”. Dalam hal ini memberikan apa yang ada di dalam diri individu, seperti kebahagiaan, pengetahuan, minat, bahkan kesedihan dan pengalaman yang dimiliki masing-masing.

Relasi dengan konsep ini dinilai akan berjalan lebih aktif, karena masing-masing individu saling memberi dan berbagi apa yang dimilikinya, bukan berarti menyerahkan dan mengorbankan segalanya.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  WARTA FOTO: Serunya Silahturahmi DWP Disdik Batam Bersama HMR dan Wagub Marlin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *