SATU dari banyak yang bisa dipetik dari puasa di bulan Ramadan adalah, kita dapat belajar dan memahami bahwa segala sesuatu ada konsekuensinya. Pendidikan karakter semacam ini sangat bagus diajarkan kepada anak-anak.
Sebab, konsekuensi sendiri adalah perilaku yang berfokus mengajarkan bagaimana anak-anak bertingkah laku lebih baik untuk ke depannya. Di sini, Orang tua bisa mengajarkan tentang sebab dan akibat dari apa yang dilakukan oleh anak.
Contoh paling sederhana dalam konteks Ramadan ini adalah: Kalau berpuasa maka konsekuensinya akan lapar dan dahaga, tapi bagus untuk kesehatan. Dan yang pasti, pahalanya juga sangat besar.
Sedikit melansir Journal of Personality and Social Psychology, memberikan konsekuensi yang tepat berfokus untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak bahwa dia bisa berperilaku lebih baik di masa depan.
Konsekuensi juga sekaligus membuat anak berpikir “Apa yang akan terjadi bila aku melakukan A atau B?”
Sehingga menunjukkan konsekuensi dianggap sebagai cara mendidik yang baik, karena:
Mendorong anak untuk berpikir kritis, mendorong anak belajar dari kesalahan, menumbuhkan disiplin dan pengendalian perilaku dari dalam diri, mengajarkan cara untuk menghadapi masalah, hingga memberikan contoh nyata mengenai hal baik dan buruk.
Sehingga saat dewasa nanti, si anak akan tumbuh dengan karakter yang baik. Mereka akan punya tanggung jawab dalam setiap tindakannya.
Bukan sebaliknya, tumbuh menjadi pribadi cengeng, culas bahkan khianat: Berani berbuat tapi tak siap menanggung akibatnya, sehingga sibuk mencari kambing hitam. Parahnya lagi merasa menjadi korban (playing victim). Padahal dia sendiri pelakunya. Bikin gaduh saja bukan?
Bagaimana menurut Anda?






