MASYARAKAT umumnya sangat benci kepada orang pelit. Karena itu, sifat pelit ini banyak memiliki padanan katanya. Seperti bakhil, kikir, dan medit. Bahkan orang Sunda punya sebutan lebih lengkap lagi: buntut kasiran, koret, pedit, kumed, cap jahe.
Harta miliaran, tapi ngaku tak punya uang. Mobil mewah, rumah megah, tapi masih merasa miskin. Sekali perawatan ke salon habis puluhan juta, tapi ngopi saja minta dibayarkan orang.
Ini adalah satu penyakit hati. Orang toxic semacam ini bisanya tak segan memanipulasi atau menipu. Sehingga tega-an, dan nirempati.
Pakar Ilmu Alquran KH Ahsin Sakho mengatakan, sebab terjadinya seseorang pelit adalah karena kecintaannya pada harta yang berlebihan.
Terhadap orang-orang yang bakhil tersebut, kata Kiai Ahsin, agama sangat melarang sikapnya. Terlebih, Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang yang pelit bukan bagian dari umat Nabi. Nabi berkata, “Laisa minna, laisa minna”. Yang artinya, “(Orang yang pelit itu) bukan bagian dari kami”.
Ingat, setiap harta dan karunia yang didapat adalah milik Allah SWT. Allah menitipkan harta tersebut kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya untuk diambil kembali dengan cara-cara yang Dia perintahkan.
Dengan membiasakan diri untuk saling berbagi dan berempati, memberikan sesuatu kepada orang lain sejatinya dapat menguntungkan dirinya sendiri dan juga orang lain. Yakni, pembersihan diri dari sifat kikir tadi dan juga membangun relasi sosial yang lebih baik.
Sebab, sesungguhnya manusia selain harus menjalin ikatan dengan Allah, dia juga merupakan makhluk sosial. Istilahnya dikenal dengan hablu minallah wa hablu minannas.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI JUMAT: Rahasia Hidup Tentram






