DI MASA sebelum “kerajaan” medsos menyerang, orang-orang tua kita dulu punya waktu-waktu khusus saat berbicara hal penting baik dengan warga, khususnya dengan anak-anaknya. Bisanya malam. Karena keheningan membuat suasana tenang dan jernih.
Biasanya mereka duduk bersama, lalu berbicara dengan lembut seolah berbisik. Dari sini muncul istilah “mendudukkan” atau “dari hati ke hati”. Sebuah tradisi yang terus diturunkan hingga sang anak dewasa.
Kenapa hati? Menurut tokoh pendidikan dari Jawa Timur, Profesor Dr H Imam Suprayogo, karena hati selalu lembut, dan tidak pernah bohong. Hati selalu jujur sehingga menyampaikan sesuatu apa adanya. Berbicara dengan hati artinya berbicara secara jujur, ikhlas, dan penuh kasih sayang.
Inilah tradisi humanis yang kini kian jarang ditemui di era medsos. Di mana komunikasi tak lagi dilakukan dengan melibatkan rasa. Sehingga suara hati tak lagi bisa didengar.
Jika komunikasi sudah kehilangan “hati”, ibarat raga kehilangan ruhnya. Yang muncul adalah suasana saling menghujat, menjatuhkan, dan menyengsarakan pihak lain.
Mari kembali menjadi manusia nan beradab, bicara dengan kalbu. Maka di sana akan ditemui suasana menyejukkan, menyatukan, saling menghormati dan menghargai sesama, sehingga damai akan hadir dengan sendirinya.
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Percaya karena Ada Bukti






