MENGAPA kita cenderung tak sopan di media sosial (studi Microsoft 2020)? Seperti kasus baru-baru ini, ada seorang wali kota direndahkan dengan kalimat peyoratif oleh oknum ASN di sebuah provinsi.
Kompas menulis, pengamat sosial media sekaligus pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Yohannes Widodo menyebut, hal tersebut dibentuk oleh pola komunikasi.
Di ranah sosial media interaksi yang terjadi bersifat intermediated communication atau komunikasi yang termediasi. Sementara di ruang nyata, komunikasi terjadi secara face to face dan tradisional.
Hal itu berpengaruh pada batas psikologis pola komunikasi yang terjadi antar dua manusia. Misal di alam nyata selalu terkondisi untuk menjaga sopan santun. Di media sosial, batasan psikologis dan adab itu nyaris hilang.
Maka wajar jika ada ungkapan, “Di media sosial, cacing pun bisa merasa bagai naga. Cupu merasa jadi suhu, orang culun pun merasa layaknya Iron Man.” Maka itu perbanyak ngaca, dan kalau lagi stress jangan dulu main media sosial.
Bagaimana menurut Anda?(ski)






