JIKA Adolf Hitler punya Kementerian Pencerahan Publik dan Propaganda untuk membentuk opini dan perilaku masyarakat Jerman, maka Uni Soviet (Rusia) di era Joseph Stalin, punya departemen bernama Dezinformatsiya.
Sebelum dipakai Hitler, kata “propaganda” sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1600-an dan dimengerti sebagai “pemilihan informasi secara selektif untuk mendapatkan efek politik tertentu”.
Beda dengan Dezinformatsiya, departemen milik Badan Intelijen Uni Soviet (KGB) ini bertujuan untuk menyebar laporan-laporan salah yang bertujuan membentuk opini publik.
Dezinformatsiya akhirnya diserap dalam bahasa Inggris sebagai “disinformation” atau kita menyebut “disinformasi”, yang berarti menyebarkan informasi palsu (bisa juga fitnah) untuk menipu opini publik.
Disinformasi tak sama dengan misinformasi yang berarti informasi yang keliru, tetapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa itu benar. Ini murni karena orang tersebut tidak tahu fakta terbarunya atau keliru menangkap informasi.
Disinformasi ini sangat jahat. Sebab selain pelakunya sengaja menebar informasi palsu untuk menipu, juga secara singkat melibatkan empat hal: provokasi masif, repetisi pesan yang konsisten, pengabaian data dan fakta, serta penyebaran pesan yang inkonsisten atas substansi.
Sebenarnya kita sudah merasakan dampaknya di era media sosial saat ini. Untuk itu, mari sadar, kita lawan pelaku disinformasi ini. Cerdaslah bermedia. Jangan sampai kita tenggelam dalam informasi, tetapi kelaparan akan pengetahuan.
Bagaimana menurut Anda?(ski)






