BELUM lama ini ada artis yang disanjung sederhana, karena mengaku tak suka beli barang-barang branded, seperti tas dan aksesoris lainnya. Bahkan ikat rambutnya pun hanya Rp10 ribuan. Padahal hartanya melimpah.
Namun fakta lain mengungkap; memang benar dia tak suka beli barang branded, tapi soal perawatan dan skin care, sanggup beli yang kelas satu. Rumahnya pun sangat mewah yang memiliki luas 3000 m2! Apakah ini sederhana?
Sebenarnya yang dilakukan sang artis ini adalah konsep “money dial”, yakni gaya hidup membelanjakan uang untuk sesuatu hal yang benar-benar memberikan kebahagiaan. Apakah ini salah? Tentu tidak, asal tak diraih dengan cara-cara kriminal.
Mengenai kesederhanaan, kebanyakan orang keliru dalam menafsirkan. Maka setiap lihat orang yang berpakaian jelek dan murah, atau rumahnya kurang elok, langsung disebut sangat sederhana.
Jika dari sana hendak diukur kesederhanaan, maka kita tidak akan bertemu hakikat yang sebenarnya. Sebab kesederhanaan itu bukan pada bentuk lahir, bukan pada kemestian orang kaya dan termasyhur saja, juga bukan pula diperuntukkan bagi kaum fakir miskin.
Prof DR H Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal Buya Hamka mengatakan yang sederhana itu adalah niat, sederhana tujuan, yang merupakan tujuan segala manusia yang berakal.
Dalam hal sederhana keperluan hidup, Buya Hamka menuliskan hal ini, “Dapat makan dua kali sehari, pakaian dua persalinan, rumah yang cukup udaranya untuk tempat diam, dapat menghisap udara dan bergerak, kita sudah dapat hidup. Cuma nafsu jugalah yang meminta lebih dari itu, sehingga di dalam memenuhi keperluan hidup, kerapkali manusia lupa akan kesederhanaan”.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Ide dan Kerja Keras






