CUCI PIRING memang lazim dilakukan usai makan. Agar piring-piring kotor itu bersih dan bisa dipakai lagi. Bisa jadi karena aktivitas ini akrab dalam keseharian, sehingga jadi metafora populer di masyarakat.
Misalnya dalam sepak bola, ada posisi “pencuci piring”, yakni defensive midfilder (gelandang bertahan). Mungkin karena tugasnya membersihkan daerah pertahanan dari ancaman lawan.
Dalam dunia saham juga dikenal istilah “cuuci piring”, yang merujuk pada fenomena saat kita terlambat masuk ke pasar modal ketika sedang naik. Baru saja masuk, harga saham turun. Akibatnya rugi alias hanya kebagian mencuci piring.
Dalam politik istilah “cuci piring” juga dikenal, setelah dipopulerkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di awal masa kepemimpinannya tahun 2007 lalu.
Saat itu Presiden SBY menyebut pemerintahannya siang malam mencuci piring pesta yang dulu. “Kita harus kerja keras cuci piring biar bersih, karena banyak yang dulu berpesta, lupa cuci piring,” katanya.
Ada pesan menohok yang disampaikan SBY di akhir pernyataannya. “Yang diingat cuci tangan ketimbang cuci piring,” katanya yang lagi-lagi memunculkan sebuah metafora baru.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Pemimpin Pemberani






