INSPIRASI PAGI: Inilah Saatnya!

SEKITAR awal Juni 2009, “Si Burung Merak” Wahyu Sulaiman (Willibrodus Surendra) Broto Rendra, mengirim kado khusus ulang tahun ke-65 kepada Prof Eko Budihardjo, yang sekaligus juga hadiah untuk purna tugas sebagai pegawai negeri sipil.

Wujudnya berupa puisi dengan judul “Inilah Saatnya.” Seperti halnya karya-karya “Mas Willy” yang lain, puisi-puisi ini amat menyentuh senar-senar emosi, apalagi bila diucapkan dengan penuh perasaan.

Puisi inilah kerap dibacakan para tokoh nasional dalam menyikapi situasi Indonesia. Misalnya saat negara kita diguncang Covid-19, pada 2020 lalu. Sebab puisi ini menyiratkan agar saatnya kita action untuk mengubah keadaan. Jangan hanya diam.

Inilah yang disebutkan oleh Carolyn Forche, penyair kondang asal Makedonia, dengan “a symphony of utterance, a mosaic of discreet moments of written and spoken art.”

BACA JUGA:  WARTA FOTO: HMR dan Marlin Bawa Bantuan Lebih Rp1,1 M untuk Warga di Pulau Kasu

Puisinya, karya tulisannya, orasi budayanya, ikut mengawal peradaban (civilization) bangsa kita yang tidak akan pernah kenal titik perhentian.

Pengakuan semacam itu tidak hanya berkumandang dalam skala nasional, melainkan juga dengan skala global. Seperti Harry Aveling dan Suzan Piper, yang menulis buku “Ten Poems” yang merupakan terjemahan sepuluh puisi karya Rendra.

Wajar jika Rendra diundang membacakan puisinya di beberapa festival sastra Internasional, mulai Rotterdam, Amsterdam, Berlin, Sydney, Adelaide, Tokyo, Kualalumpur, New Delhi, Bophal, dan sebagainya.

Rendra sendiri pernah mengatakan bahwa dalam sejarah umat manusia, usia puisi selalu lebih panjang ketimbang usia negara, kerajaan, atau pemerintahan.

Karya Empu Sedah lebih panjang daripada usia Kerajaan Kediri. Karya Hamsah Fansuri lebih panjang dari usia Kerajaan Iskandar Muda.

Begitu juga usia karya Goethe lebih panjang daripada usia kerajaan Rusia dan usia karya Sophocles, Aristophanes, serta Emipidus juga lebih panjang ketimbang usia Yunani Athena kuno.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
Inilah Saatnya
(Karya W.S. Rendra)

BACA JUGA:  INSPIRASI JUMAT: Katakan yang Haq

Inilah saatnya
melepas sepatu yang penuh kisah
meletakkan ransel yang penuh masalah
dan mandi mengusir rasa gerah
menenangkan jiwa yang gelisah.

Amarah dan duka
menjadi jeladri dendam
bola-bola api tak terkendali
yang membentur diri sendiri
dan memperlemah perlawanan.
Sebab seharusnya perlawanan
membuahkan perbaikan,
bukan sekadar penghancuran.

Inilah saatnya
meletakkan kelewang dan senapan,
makan sayur urap
mengolah pencernaan,
minum teh poci,
menatap pohon-pohon
dari jendela yang terbuka.

Segala macam salah ucap
bisa dibetulkan dan diterangkan.
Tetapi kalau senjata salah bicara
luka yang timbul panjang buntutnya.
Dan bila akibatnya hilang nyawa
bagaimana akan membetulkannya?

Inilah saatnya
duduk bersama dan bicara.
Saling menghargai nyawa manusia.
Sadar akan rekaman perbuatan
di dalam buku kalbu
dan ingatan alam akhirat.

BACA JUGA:  INSPIRASI PAGI: Jangan Jadi Kepiting

Ahimsa,
tanpa kekerasan menjaga
martabat bersama.
Anekanta,
memahami dan menghayati
keanekaan dalam kehidupan
bagaikan keanekaan di dalam alam.

Menerima hidup bersama
dengan golongan-golongan yang berbeda.
Lalu duduk berunding
tidak untuk berseragam
tetapi untuk membuat agenda bersama.

Aparigraha,
masing-masing pihak menanggalkan pakaian
menanggalkan lencana golongan
lalu duduk bersama.
Masing-masing pihak hanya memihak
kepada kebenaran.

Inilah saatnya
menyadari keindahan kupu-kupu beterbangan.
Bunga-bunga di padang belantara
Lembutnya daging dan susu ibu
dan para cucu masa depan
mencari Ilham.

Inilah saatnya,
Inilah saatnya.
Ya, saudara-saudariku.
Inilah saatnya bagi kita.
Di antara tiga gunung
melekuk rembulan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *