SETIAP orang pasti punya sahabat. Berbeda dengan teman, sahabat adalah buah dari kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita, setelah bersama melalui beragam ujian kehidupan.
Seperti apa ujiannya? “Bersukacita dalam kegembiraan, tidak menderita atas penderitaan, membuat seseorang menjadi sahabat,” kata filsuf Friedrich Nietzsche.
Bahasa awamnya adalah, sahabat tak pernah meninggalkan ketika masa-masa senang atau sulit, bahkan merekalah yang mengangkat kita dari keterpurukan.
Dalam Islam juga dikenal para sahabat Nabi dan Rasul. Disebut demikian, karena mereka adalah orang-orang setia. Di setiap perjuangan bahkan peperangan, mereka selalu ada di sisinya.
Persahabatan tak hanya terjadi antara manusia dengan manusia, juga antara manusia dan hewan. Dalam Islam juga ada kisahnya.
Seperti para pemuda Ashabul Kahfi, misalnya, mereka bersahabat dengan seekor anjing yang selalu setia saat mereka dilempar batu, dan diburu tentara raja Diqyanus.
Bahkan saat mereka bersembunyi di gua Rajib, yang lokasinya berada sekitar 8 kilometer dari Amman, Yordania, hingga tertidur selama 309 tahun, anjing itu tetap menjaganya di depan gua.
Begitulah sejatinya persahabatan. Jadi jangan mengaku sahabat, saat melihat teman terpuruk, Anda malah menjauh, sembunyi sambil makan-makan di restoran. Malu sama anjing Ashabul Kahfi!
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI JUMAT: Katakan yang Haq






