15 Juli 2024

Kabar Baik dari Batam

INSPIRASI PAGI: Wartawan Kopassus

TOKOH PERS Dahlan Iskan, pernah menyampaikan gagasannya tentang “wartawan Kopassus”, yang merujuk pada kehebatan Komando Pasukan Khusus, TNI Angkatan Darat.

Wartawan Kopassus, kata Dahlan, kemampuannya haruslah seperti itu. Dia harus tangguh di segala medan, tahan banting, memiliki daya tembus yang luar biasa terhadap sumber-sumber berita.

Mereka juga harus lincah menganalisa dan memburu ada apa di balik berita itu. Berita yang disajikan pun lebih mendalam dan kelas satu. “Bila punya lima saja wartawan seperti ini, (maka produk yang dihasilkan) akan luar biasa, ” jelasnya.

Bagaimana cara mencetak “wartawan Kopassus” ini? Yang paling ampuh melalui jurnalistik investigasi. Sebab, semua kriteria yang disebut Dahlan, akan terpenuhi.

Dari sini kompetensi seorang jurnalis diukur. Mulai dari tahap perencanaan, eksekusi, hingga penulisan laporan. Pasalnya, seorang wartawan investigasi perlu melakukan observasi langsung.

Untuk itu, panca indranya harus peka, agar bisa merekam setiap detail peristiwa, suasana, tempat untuk melengkapi laporan investigasinya. Selanjutnya mengumpulkan bukti-bukti fisik untuk memperkuat laporan investigasinya. Seperti foto, dokumen, rekaman, dan video.

Setelah semua bahan terkumpul, cek kembali apakah angle, pertanyaan-pertanyaan, dan hipotesis sudah terjawab. Jangan lupa, gaya penulisan laporannya harus naratif dan argumentatif, dilengkapi foto dan infografis.

Yang paling penting, perhatikan aspek cover all sides atau keberimbangan, hal ini untuk menghindari tuntutan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Jadi tak asal nulis apalagi copy paste. Maka jangan heran jika wartawan terkenal di Indonesia bahkan dunia adalah mereka yang berhasil melakukan praktik jurnalisme investigasi.

Yang paling tenar adalah duet wartawan Washington Post yakni Bob Woodward dan Carl Bernstein, saat membongkar skandal Watergate yang berujung pada pengunduran diri Presiden Amerika Serikat Richard Nixon dari jabatannya pada periode kedua.

Di Indonesia juga dikenal Bondan “Maknyus” Winarno, jurnalis investigasi yang sukses membongkar skandal klaim palsu tambang emas Bre-X pada 1997.

Apa jadinya jika di Indonesia, jurnalisme investigasi ini dilarang? Maka pers kita akan ambruk. Karena sendi utama penopangnya hancur. Giginya ompong!

Sekalian saja bubarkan lembaga penghargaan Adi Negoro, Muchtar Lubis dan lain-lainnya itu. Karena tak akan ada lagi karya jurnalistik bermutu.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.