PADA suatu hari, Aristoteles bertanya kepada gurunya, Plato, mengenai arti dari cinta sejati. “Berjalan luruslah di taman bunga yang luas. Petiklah satu bunga yang terindah menurutmu. Dan ingat! Jangan pernah kembali ke belakang,” uji Plato.
Perintah ini langsung dikerjakan. Namun apa hasilnya? “Aku tidak bisa mendapatkannya,” lapor sang murid.
Sebenarnya Aristoteles telah menemukan bunga yang menurutnya indah. Namun dia berpikir pasti di depan ada bunga yang lebih bagus lagi.
“Ketika aku sampai di ujung taman, aku baru sadar bahwa bunga yang aku temui pertama tadi itulah yang terbaik. Tapi aku tidak bisa kembali lagi ke belakang.”
Mendengar ini, Plato pun menjawab, “Wahai Aristoteles muridku, itulah cinta sejati. Semakin kau mencari yang terbaik, maka kamu tidak akan pernah menemukannya.”
Sekadar diketahui, pada simposium yang terselenggara di Yunani kuno, Plato menyampaikan filsafat cintanya yang dikemas dalam Alegori Plato. Ia menyebutnya, “Cinta Platonik”, cinta yang sejatinya telah melampaui ranah filsafat, cinta yang tulus, hubungan emosional yang tak bersyarat.
Wow… Tak bersyarat!
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Bahasa Cinta






