SEJAK zaman dahulu manusia sudah saling bertukar informasi. Meski caranya masih sangat sederhana. Misal pada kebudayaan orang-orang suku Aztek, suku Inka dan suku Maya di Amerika Latin.
Biasanya pesan penting dikirim dan diteruskan (forwarded) melalui sejumlah utusan atau kurir. Apabila lokasi terlalu jauh, utusan akan memberikan pesan tersebut pada utusan terdekat. Lalu, utusan terdekat meneruskan kepada penerima pesan.
Pola seperti ini juga ditemukan sejak zaman Yunani Kuno. Tak hanya menyampaikan pesan, juga saat melakukan ritual pemujaan kepada leluhur dengan membawa api obor yang diberikan secara bersambungan. Maklumlah, di sana api suci diambil dari tempat yang jauh.
Konsep lari sambung ini akhirnya menginspirasi manusia modern menciptakan sebuah lomba yang disebut lari estafet. Awalnya diselenggarakan oleh dinas pemadam kebakaran New York pada tahun 1880-an. Saat itu, setiap bendera merah saling dioperkan dengan jarak setiap 275 meter.
Dalam perlombaan Olimpiade, lari estafet pertama berlangsung pada tahun 1908. Jaraknya masih variatif 200, 400, dan 800 meter.
Hingga saat ini olahraga lari estafet kian lestari, sebab selain menyehatkan juga memiliki filosofi kehidupan dan kepemimpinan nan dalam. Di sana manusia belajar membangun trust, kekompakan, tim work, kolaborasi juga sinergi. Karena saat berlari, mereka membawa mimpi di dalam hatinya.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






