SERINGKALI kita melihat di tengah masyarakat sebuah fenomena yang disebut sebagai bystander effect atau efek pengamat, yang diperkenalkan oleh seorang psikolog sosial bernama Bib Latane dan John Darley.
Menurut media Kompas, melansir dari Jurnal Personality and Social Pyschology, efek pengamat merupakan situasi di mana seseorang enggan menolong ketika berada di keramaian. Penyebabnya karena ambiguitas, kekompakan tim, serta kebingungan akan siapa yang harusnya memikul tanggung jawab.
Dikutip dari Social Psychology Eighth Edition (2018) karya Michael A Hogg dan Graham M Vaughan, efek pengamat disebabkan oleh:
Seseorang tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga individu melempar tanggung jawab menolong kepada yang lain.
Selanjutnya akibat Social Blunders, yakni seseorang merasa malu atau dianggap konyol apabila melakukan kesalahan. Sehingga dengan maksud menjaga citra, ia cenderung terdiam walau ada dorongan ingin menolong. Daripada melakukan hal yang salah dan memalukan.
Agar efek pengamat ini berkurang, tentu dibutuhkan dukungan masyarakat luas. Caranya biasakan mengapresiasi atau berterima kasih atas sekecil apapun pertolongan atau perbuatan orang yang mau bekerja. Sehingga bisa memotivasi yang lain untuk mencontoh.
Jika ada kesalahan, tegur atau beri solusi dengan baik. Sebab, bagaimana pun orang tersebut sudah bekerja dan membantu.
Jangan sampai kita membuat orang enggan berbuat baik, karena hanya kesalahan setitik yang bekerja malah di-bully habis-habisan, sementara yang malas, tak mau bantu, dan banyak bacot, malah dibiarkan. Bahkan dapat nama. Kapan majunya?!
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Pemimpin Pemberani






