BUNG Karno pernah berkata, ”Lebih baik kita membuka hutan kita dan menggaruk tanah kita dengan jari sepuluh dan kuku kita ini daripada menjual serambut pun daripada kemerdekaan kita ini untuk dolar (mata uang Amerika/Blok Barat), untuk rubel (mata uang Uni Soviet/Blok Timur).”
Namun setelah merdeka pada 17 Agustus 1945, apakah kita benar-benar lepas dari keterjajahan? Ternyata tidak semudah itu.
Bahkan mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif mengatakan, setelah lebih dari tujuh dekade kolonialisme berlalu, bangsa Indonesia masih harus berjuang untuk belajar merdeka.
Sebab warisan penindasan terlama dari penjajahan bukanlah pengurasan sumber daya alam, pengalaman penderitaan, dan penghilangan nyawa manusia, melainkan jiwa terjajah atau perbudakan mental-kejiwaan (mind), seperti inferiority complex, hingga tidak percaya diri.
“Kalau Bung Karno menyebutnya selalu terpukau pada apapun yang datang dari luar, gebyar lahir, tetapi isi batinnya kosong melompong, suka mempertentangkan hal-hal yang remeh-temeh, senang melihat sesama susah, dan susah melihat sesama senang,” jelasnya.
Untuk itu saatnya kita sadar, mulailah belajar merdeka agar dapat benar-benar menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri. Bangun karakter, pengetahuan dan inovasi.
Sehingga, semua pemangku kepentingan, seperti keluarga, guru, institusi pendidikan, dunia industri, dan masyarakat, menjadi agen perubahan (agent of change).
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Mengukir Sejarah






