TANTANGAN pendidikan di zaman digital –di mana tak ada lagi sekat informasi dan budaya, serta kerap terjadi benturan peradaban– seperti saat ini, sangat berat dan rumit.
Itulah pentingnya kita membaca kembali ide-ide besar dari Ki Hadjar Dewantara, dan berupaya untuk mengontekstualisasikannya sesuai dengan kondisi kekinian. Khususnya yang bergelut di dunia pendidikan.
Salah satu ide besar tersebut sosok yang berjuang di tiga lapangan, yaitu perjuangan kemerdekaan nasional, perjuangan pendidikan, dan perjuangan kebudayaan tersebut adalah, mendidik anak tanpa harus
Era digital dengan otomatisasi, kecerdasan buatan, dan ragam variannya tidak boleh membuat anak didik kita semakin tercerabut rasa kemanusiaanya. Pendidikan harus membuat anak mencintai bangsa, identitas, serta budayanya.
Seperti tiga dasar utama pengajaran yang Ki Hadjar sampaikan. Pertama, pengajaran rakyat harus bersemangat keluhuran budi manusia. Kedua, pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kecerdasan budi pekerti, membangun karakter. Ketiga, pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kekeluargaan (Majelis Luhur Taman Siswa, 2013).
Di sinilah peran pendidik yang terus melakukan momong (masa kanak-kanak siswa berusia 1-7 tahun), among (masa pertumbuhan jiwa dan pikiran 7 – 14 tahun), dan ngemong (masa terbentuknya budi pekerti dan kesadaran sosial 14- 21 tahun), seperti pesan pria dengan nama asli Suwardi Suryaningrat tersebut.
Ini berarti, guru yang dibutuhkan ialah mereka yang mampu menemani gejolak kaum muda yang mudah terombang-ambing di era semakin cepatnya perubahan zaman.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
ARTIKEL: Disarikan dari tulisan di Media Indonesia






