SEBUAH foto candid ini memperlihatkan bagaimana upaya Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR) merendahkan tubuhnya, demi mendengar curahan hati anak SD.
Foto ini diambil ketika HMR, didampingi Wakil Gubernur Kepulauan Riau Hj Marlin Agustina, menghadiri Program Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Batam Berbagi Hinterland, Selasa (10/1/2023) pagi.
Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss dalam Human Communication (2005) memaparkan, ada empat unsur yang harus ada dalam proses mendengar yang baik.
Pertama, mendengar sebagai proses fisiologis otomatic penerimaan rangsangan pendengaran, kedua; memberi perhatian, ketiga; memahami apa yang didengar, dan keempat; mengingat apa yang pernah didengarnya.
Dari sinilah muncul sikap mendengar dengan empati. Empati berasal dari kata “Einfuhlung” yang secara harfiah berarti merasa terlibat, juga berarti bahwa si pendengar memberi penghargaan dan membesarkan hati si pembicara.
Kita butuh pemimpin yang bisa mendengar dengan empati itu. Mereka lebih banyak menjadi pendengar yang baik, dan kemudian diam-diam bekerja. Pemimpin semacam ini bisanya berbicara dalam bahasa sederhana nan mudah dipahami.
“Di masa lalu, pemimpin adalah bos. Namun kini, pemimpin harus menjadi partner bagi mereka yang dipimpin. Pemimpin tak lagi bisa memimpin hanya berdasarkan kekuasaan struktural belaka,” ujar Kata Erich Fromm, seorang filsuf dan psikolog dari Jerman dan Amerika Serikat (1900-1980).
Bagaimana menurut Anda? (ski)






