ORANG awam selalu mempersepsikan kekayaan dan status sosio ekonomi seseorang hanya berdasar dari rumah, pakaian, aksesori, hingga makan pinggir jalan. Padahal itu tak lagi jadi ukuran.
Sebab, bisa saja ada orang yang rumahnya sederhana tapi income-nya luar biasa, punya bisnis, bahkan di luar daerah punya properti mewah, kebun ratusan hektare, hingga deposito fantastis.
Ada juga yang gayanya seperti orang miskin ternyata “sultan”. Setiap hari selalu dilayani dengan fasilitas VVIP, lengkap dengan sopir, asisten, plus mobil mewah. Bahkan kalau jalan-jalan ke luar negeri, misal ke Turki, minta akomodasi kelas bisnis dan fasilitas wah.
Yusuf Hamka, misalnya, kalau potong rambut dan makan, selalu di kaki lima. Namun jangan salah, “Raja Jalan Tol” ini punya koleksi mobil super mewah, yang satu unitnya lebih Rp3,7 miliar.
Contoh lain, ada aktris cewek yang tak mau pakai barang branded. Namun jangan keliru, ratusan juta rupiah mampu ia habiskan untuk perawatan wajah hingga tubuh, agar kulit wajah mulus, gigi rata dan putih, rambut lebat dan rapi, dan seterusnya.
Salahkah punya gaya hidup semacam ini? Tentu tidak. Itu pilihan. Lagi pula mereka berbuat apa adanya. Yang salah jika menjadikan hal tersebut sebagai gimik pencitraan untuk meraih simpati.
Baru makan di kaki lima sudah merasa paling miskin di dunia, baru naik turun pelantar sudah merasa paling menderita di bumi. Bahkan digambarkan sama susahnya dengan rakyat jelata. Oh come on bro… Ini sudah tahun 2023!
Bagaimana menurut Anda? (ski)






