3 Desember 2023

Kabar Baik dari Batam

INSPIRASI PAGI: Semangat Kerja Sama

"KOLABORAKSI": Wali Kota Batam H Muhammad Rudi (HMR), dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau Hj Marlin Agustina, foto bersama saat HUT Korpri Tingkat Kota Batam, di Dataran Engkuputri, Batamcenter. Hanya dengan kolaborasi kita akan sejahtera.

KARAKTER orang Nusantara ini umumnya tak ingin berkonflik, sehingga cenderung tak enakan. Jangankan sampai menyerang fisik atau memaki, mau lewat saja masih minta maaf, atau minimal bilang permisi.

Karakter ini akhirnya meresap ke dalam bahasa sehari-hari. Maka jangan heran jika banyak sekali orang kita memakai padanan kata yang disamarkan, karena takut menyinggung.

Kenapa orang Nusantara punya sikap semacam ini? Menurut pakar Neurosains Indonesia dr. Roslan Yusni Hasan, Sp.BS. atau yang sering disapa dr. Ryu Hasan, karena alam Nusantara ini memiliki sumber daya yang tak terbatas.

Beda dengan bangsa yang hidup di daerah yang memiliki sumber daya terbatas. Mereka harus membangun kelompok dengan ikatan yang sangat kuat untuk dibenturkan untuk merebut sumber daya kelompok lain.

Kasarnya, di Nusantara ini tak perlu khawatir kelaparan. Sebab di mana-mana banyak makanan. Seperti lagu Koes Plus, “Tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman.”

Inilah mengapa bangsa-bangsa di Nusantara dari dulu terbiasa kolaborasi atau gotong royong daripada berkompetisi. Sebab semakin besar kerja sama, maka akan makin efektif dan efisien dalam bekerja mengelola sumber daya nan melimpah ini.

Ini juga –kata arkeolog dan ahli Majapahit dari Universitas Indonesia Hasan Djafar– dilakukan kerajaan Majapahit, dengan menghimpun kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan beberapa kerajaan di Asia Tenggara daratan, dalam menghadapi perkembangan arus global perdagangan dan politik internasional di kawasan Asia Tenggara saat itu.

Sedangkan konsep kolaborasi ini, baru digiatkan oleh para pemimpin dunia khususnya Eropa dan Amerika, sejak paro kedua Abad ke-20, saat sumber daya dunia sudah melimpah.

Sehingga konsep menyerang, menjajah bahkan menumpahkan darah kelompok lain untuk merebut sumber daya, sudah tak relevan lagi.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Makeba, Tekad dan Harapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.